Kabar Gunung Lawu serta segala entitasnya


Hallo man, kali ini saya akan berbagi kisah perjalanan saya mejajali hawa dingin ala gunung lawu, sekedar informasi gunung lawu terletak didaerah magetan perbatasan jawa tengah dan jawa timur dengan ketinggian 3265 mdpl kalo ngak berubah sih๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚, pertama saya dan rombongan Mepo di terminal jombang dan naik bus ekonomi jurusan magetan dan lanjut sewa angkot menuju pos perijinan. Oh iya sekedar info saya sebelumnya sudah boking angkotnya dari nomer telepon yang dibagi teman saya, jadi saya sudah janjian sebelumnya. Didalam angkot kami saling berkenalan untuk mengakrabkan keadaan. Sampai sampai saat itu kami ditawari sebuah ramuan penghangat tubuh yang biasa orang sana sebut 'cui', tapi karena kami takut jadi kami hanya pura-pura meminumnya. Oke tibalah kami dipos perijinan lalu registrasi barengan dengan pendaki asal surabaya 3 orang yang tadi numpang angkot kami, setelah selesai registrasi keputusan untuk ngecamp dan melakukan start esok paginya disetujui semua... Kami mulai mendirikan tenda-tenda, masak lalu istirahat karena sudah tidak begitu tahan dengan suhu yang sangat dingin diluar tenda saat itu. Kami mendaki melalui pos perijinan cemoro kandang yang letak geografisnya sudah masuk jawa tengah.

"Mendaki itu mudah, yang susah itu meletakan ego kita serendah mungkin saat mendaki"
-kabarangin

Mentari pagi telah membangunkan kami dari kepulasan berpetualang dialam mimpi (sebenernya sih gara gara banyak yang ramai diluar tenda๐Ÿ˜‚). Mulailah sebuah perjalanan menyusuri hutan panjang dengan keindahan dan mistis kentalnya, tapi itu tidak membuat kami memikirkannya cukup dihormati saja. Anggota kami menjadi bertambah menjadi 9 orang dengan pendaki surabaya, setelah jatuh bangun jatuh lagi bangun lagi semangat kami mengajak untuk mengistirahatkan diri sejenak perlu diketahui kami (rombongan saya) sengaja meninggalkan alat alat eksistensi dirumah masing-masing, karena kesepakatan itu kami tidak mengambil gambar.

"Ketika peluh menjadi semakin hangat, tidak ada alasan untuk tidak semangat. Selalu tersungkur dan selalu bersyukur agar mendapatkan yang terbenar"
-kabarangin

Kami begitu menikmati perjalanan yang santai sampai kami lupa sudah melewati beberapa pos pendakian, seketika itu kami beristirahat lagi dikarenakan teman dari surabaya mengalami keram kaki di pos 3 semua mencoba untuk melakukan pertolongan dengan mengurut kaki mengurut hatinya juga sih biar ngak gampang baper๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚, tapi dia memutuskan untuk tinggal dipos itu dan menunggu sampai kami turun meskipun kami bersikeras tentang sebuah kebersamaan (naik bareng turun bareng maksudnya) meskipun baru kenal dia tidak mau entah karena ngak enak apa gimana kami juga ngak tau... Akhirnya tertinggalah teman kami dipos 3 untuk menunggu kembalinya dari puncak, kami terus berjalan menapaki jejak-jejak pendaki yang telah mendahului kami, mendahului maksudnya didepan. Sampe ditrek yang sedikit membuat cemas tapi banyak rindunya seperti lagu payung teduh, karena saya dan satu teman ada didepan menjumpai burung jalak penunjuk jalan yang konon jika ada orang tersesat pasti ditunjukan jalan yang benar oleh burung itu macam pak ustad gitu, sehingga saya hanya membuntuti dibelakangnya sampai siburung terbang lagi saat mau diambil gambarnya oleh pendaki lain, dan juga bertemu kupu-kupu biru yang menurut mitologi adalah penjaga dari gunung lawu pertanda jika kita diberi ijin untuk melakukan perjalanan, Tapi yang dapat melihat cuma sebagian dan salah satunya saya.

"Percuma!!! Sebanyak apapun gunung kau daki, sejauh apapun kakimu melangkah tanpa diiringi dengan rasa syukur"
-kabarangin

Tanpa berfikir panjang dan banyak bicara karena sudah merasa perlu istirahat, kami mulai berjalan menuju pos 4 yang biasa kami disebut "oro-oro suryo"  Padang surya karena luasya dan rumputnya yang sangat lebat. Tapi kami memilih untuk melewatinya padahal bulan sudah menampakkan jelas wajahnya, tapi padang itu sudah sesak oleh tenda para pendaki, karena waktu itu hari libur panjang. Kami melanjutkan untuk mencari tempat camp lagi, karena ngak ketemu tempat dan sebagian kaki sudah dikalahkan hawa dingin kami istirahat sejenak dibebatuan yang tak kami sadari bahwa itu sering disebut "pasar dieng" Pasarnya para lelembut, kami tidak menyadarinya jadi ya biasa saja perasaannya, untung saja tidak ketemu patner dari alam lain ya๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Lanjut dan lanjut melangkah menyusuri kedinginan menapaki tanah terjal dengan segala semangat dan kegigihan akhirnya kami sampai dipuncak hargo dalem puncak kedua gunung lawu dan kami camp disana... Seperti biasa bagaimanapun kondisinya masak tetaplah hal yang utama.. Rahasia dapur pendaki, setelah lelah bercerita, curhat dan lain sebagainya kami melanjutkan mimpi kami malam kemarin ( mimpi nanjak bareng doi).

"Pagiku begitu indah mendegar suara embun, debu dan angin bersenandung memanggil namamu"
-kabarangin

Mentari pun mulai memancarkan sinarnya meskipun dingin tidak merubah posisinya, masak pagi menjadi salah satu pilihan kami sebelum mencoba menapaki puncak utama jika Tuhan menghendaki. Setelah sarapan, packing barang menjadi cara kami belajar menata hidup agar lebih seimbang tidak berat sebelah, karena berjuang sebelah pihak itu ngak enak kan๐Ÿ˜. Kami melewati warung tertinggi dipulau jawa yaitu warung mbok yem biasa disebutnya, tapi kami hanya lewat mengingat waktu semakin siang dan matahati ehh matahari semakin terik, tanjakan demi tanjakan kami lewati dengan langkah getar kaki kami akhirnya puncak utama dari gunung lawu berhasil kami jumpai pada cuaca yang mendukung, hargo dumilah 2015. Rasa syukur dan doa-doa saya panjatkan kepada Tuhan karena terbesit pemikiran saya jika kita posisinya lebih tinggi doa kita lebih terdengar, tapi jangan pernah percaya itu cukup saya saja๐Ÿ˜†.

"Hargo dumilah berhasil membuat saya merasa kecil dari sekian banyak ciptaan Tuhan"
-kabarangin

"Gunung sepertihalnya Ibu jangan ada niat untuk menahlukan ataupun mengagahi, dengan Ibumu gunakan cara lain"
-kabarangin

Selepas foto bersama.... Kalian heran kan kenapa kami bisa foto minta satu foto dari rekan pendaki lain yang filenya dikirim lewat email setelah kami sampai dirumah. Oiya setelah itu warung mbok yem menjadi tujuan selanjutnya masakan pedas ala warung tertinggi sudah kami rasakan, Tapi sayang waktu itu sumber air didekat sana sedang kering jadi kami minum air bekal kami dari bawah. Merunding merupakan cara kami mengambil keputusan yang dijatuhkan untuk turun via cemoro sewu pikir kami satu kali pendakian dua jalur sudah dirasakan. Tak disangka jalur cemoro sewu sangar untuk perjalanan turun disepertiga jalan ada seorang pendaki yang Tak sengaja membuang putung rokok yang mengakibatkan kebakaran kecil, membatu memadamkannya adalah sedikit tindakan yang kami anggap mulia untuk alam setelah dirasa padam kami melanjutkan perjalanan turun dengan target yanhg ditentukan karena sudah buat janji sama sopir angkutan yang kemarin. Pos demi pos kami lewati banyak spot foto yang instagramable tapi kami hanya bisa menikmatinya dengan mata dan nurani,  sampai akhirnya kami sampai dijalur yang banyak pohon cemara menjulang tinggi menandakan pos perijinan cemoro sewu sudah dekat.. Oiya saya lupa 2 teman saya dari surabaya memilih turun melalui cemoro kandang karena harus menjemput teman yang memilih tinggal diawal pendakian hari sebelumnya, sampailah kami dipos perijinan cemoro sewu dengan rentengan sampah botol bekas yang kami pungut selama perjalanan turun. Ritual yang tak lupa kami lakukan adalah mandi dipos perijinan setelah berkotor ria selama 2 hari dan tidak mandi. Setelah itu kami mendengar kabar bahwa pendakian via cemoro sewu ditutup karena terjadi kebakaran hutan, mungkin yang kami padamkan sebelumnya... Mengingat waktu itu sangat terik dan berangin.

"Pendakian, saat itu kamu akan disibukkan oleh kepalamu yang mendongak keatas dan rasamu yang selalu mengucap syukur"
-kabarangin

Setelah itu registrasi dan menghubungi abang angkot  untuk jemput dicemoro sewu dan cemoro kandang, dengan baik hatinya abang angkot mengantar kami di terminal magetan lama yang bisa langsung naik bus jurusan jombang.. Tapi karena terlalu malam bus arah jombang pun tidak kami dapatkan, kita istirahat, tiduran sambil meratapi kapan kita pulang, teman dari surabaya pun seperti itu. Tak lama kemudian ada bus datang tapi itu merupakan sewaan dari sebuah komunitas yang ngak taunya dari surabaya juga, Akhirnya setelah beberapa kali nego Tuhan membantu kami pulang lewat surabaya dengan harga 10ribu /orang, karena tidur bangun-bangun kami sudah sampai disurabaya waktu itu pukul 12an malam mencari bus untuk bertolak ketitik asal kami dan harus menunggu sampai jam satu dini hari, disitulah kami berpisah untuk bertemu kawan dari surabaya dan melanjutkan kepulangan kami.

"Perjalanan tidak melulu soal tempat yang didatangi, saling memberi dan membantu pada sesama juga merupakan salah satunya"
-kabarangin


Sorry ya man saya tidak memposting foto karena kesepakatan kami sebelum berangkat pendakian, untuk estimasi waktu :
Pos perijinan - hargo dalem = 9 jam
Hargo dalem - hargo dumilah = 1 jam
Turun
Hargo dumilah - cemoro sewu = 4 jam

Untuk harga seperti biasa tidak ada bahasan karena mungkin sudah pada naik soalnya bbm naik biaya nikah pun ikut naik. Jika ada masukan silahkan isi kolom komentarnya ya, Hatur nuhun๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค— Salam...





NB : Jika ada saran boleh diutarakan, melalui komentar ataupun email tertera di profil

Komentar