Suatu malam di angkringan merdeka


Membaca situasi di angkringan
Jarak membentang serupa peradaban mesopotamia disepanjang sungai amazon, tapi niat ngopi harus dilaksanakan. Suasana untuk cengkrama yang tepat, tepatnya dengan diri sendiri. Kekosongan hanyalah yang nampak, nyatanya masih banyak yang bertumpuk di setiap sudut loker pemikiran. Endorfin memompa ke penjuru saraf, hingga usus 12 jari pun lupa karena sekian jam termenung dalam diam. Jalan lajur dua arah serasa seimbang, tapi nampaknya malam tenggelam dalam bunyi klakson kendaraan yang bergemuruh. Pecahlah gendang telinga, dibersamai dengan wangi parfum yang menyengat bak kampung condet berkumpul jadi satu. Seragam itu yang dapat di rasakan pada satu tempat dan posisi yang sama, angkringan sesuai dengan namanya perlahan menjauh dari makna menjadi lesehan dan itulah candramawa dalam kehidupan.

Tanpa sadar ini adalah malam ahad, malam kemerdekaan bagi pengunjung angkringan mas gondrong, malam dimana dapat bercanda berlama-lama bersama. Walau tidak semua yang ada di sini tertawa, karena masih ada manusia yang nekat datang sendiri dan berwajah lelahnya... lantas kenapa harus seperti itu?

Jadi teringat kata Friedrich Nietzsche "kiranya aku tau benar mengapa manusia satu-satunya mahluk yang tertawa; dia satu-satunya yang menderita begitu dalam, hingga harus menemukan tawa".

Mungkin karena manusia berakal jadi harus menemukan tawa, mengingat terlalu banyak limitasi untuk menyerap berbagai informasi, jadi menyikapi dari sisi komedi sangat membantu agar pikiran dapat berkompromi.


Bumi, dibuat saat kekurangan energi.

Komentar