Memutuskan pergi ke Kelud menghalau keluh
Ini mungkin sedikit menarik untuk dikisahkan, di momen ini ada kawan lama yang mau mengasah identitasnya kembali, entah karena apa??? dan kebetulan ada agenda Upacara di Gunung Kelud Jawa Timur, aku sedikit menjebak lantas dia terperdaya... untuk meneruskan lakon dari lembu suro versi milenial dan aku sebagai punggawanya, sebut saja dia LSM (Lembu Suro Milenial) mari simak kisahnya....
Alkisah hiduplah pemuda yang keseharian sebelumnya dipenuhi dengan tekanan emosional yang tinggi dalam urusan pekerjaan pun urusan perasaan, lalu dia memutuskan untuk menjadi pengelana sesaat. Aku yang didapuk sebagai juru kemudi sekaligus punggawa yang akan membawanya ke Gunung Kelud Jawa Timur dengan segala legenda yang dirasa cocok dengan situasi serta kondisinya, cocok sama lembu suro sih. Legenda Gunung Kelud merupakan bukti keseriusan, keberanian, dan ketulusan seseorang dalam berbuat.
Sekedar informasi legenda Lembu Suro adalah kisah tentang seorang pemuda mempunyai kepala serupa kerbau, yang memenangkan sayembara dari Raja Brawijaya untuk mencarikan jodoh putrinya Diah Ayu Pusparini. Karena dengan perwujudan seperti itu sang putri menolak dengan dalih memberi syarat tambahan untuk menggali sumur di puncak Gunung Kelud dalam waktu semalam dan sumur itulah yang menjadi kuburan Lembu Suro setelah dikhianati Raja Brawijaya dan Putrinya dengan cara menimbunnya hidup-hidup.
Kami memulainya dengan mengendarai motor yang kiranya waktu tempuh yang diperlukan sekitar 4 jam, berangkat sore. Di perjalanan dia berperan sebagai navigator dengan nalurinya yang MASIH tambang banget... tambang banget nih jadi ya sempet kesasar masuk ke lokasi tambang malam-malam sebelum ketemu jalan aslinya dan sampai di kontrakan yang ngak jauh dari Pos Perijinan via Karangrejo, berasa tolol banget. Selepas itu kami bebersih, makan, ngobrol-ngobrol dan langsung tidur berharap biar bangun pagi meskipun kenyataannya sampe jam 12 siang.
Persiapan dan perbekalan untuk segala kebutuhan sudah selesai, lanjut kami menuju pos perijinan dan sampai disana pukul 17.15 WIB. Setelah registrasi berhentilah sejenak untuk sekedar merokok menunggu barengan biar lebih seru, dikeluarkanlah segala macam tembakau yang sudah kami beli waktu perjalan kemarin untuk menemani bercengkrama dengan para pengelola loket dan itulah ketololan berikutnya tembakau si dia tertinggal, tepat pukul 19.00 WIB ada rombongan naik dan kami pun ikut naik.
Sepanjang perjalanan naik karena nalurinya MASIH tambang banget... tambang banget nih, dia dengan fasihnya menilai kualitas hasil erupsi Gunung Kelud yang memang tidak mengecewakan. Setapak demi setapak, Pos 2, Pos 3 terlewati dengan aman sehat rapi indah tanpa kendala yang berarti, tinggal menuju Pos 4 sembari mencari tempat untuk mendirikan tenda menggingat hari itu sangat ramai pengunjung. Karena aku hanya punggawa yang mengikuti mandat dia untuk lokasi tenda, hadap kemana dan lain sebagainya. Waktu baru sampai dia sempat berencana mengajak orang yang istimewa untuk naik kesini karena jalur sampai Pos 4 cukup ramah di kaki menurutnya, tapi aku cuma mengingatkan untuk tuntaskan dulu sampai atas baru bisa memastikan. Makan, bikin kopi, ngobrol seru lagi sama tetangga-tetangga sampai kami masuk ke tenda untuk menutup malam menyambut pagi Kemerdekaan.
Paginya dia masak, bikin kopi dan menuju puncak berbarengan dengan rombongan lain lebih dulu karena punggawanya masih hibernasi. Selesai hibernasi aku menyusulnya menuju puncak dengan napas seadanya, sebisanya, sesampainya... menemukan dia sudah jalan turun 300 meter dari puncak, betapa mengayomi punggawa dia kembali naik ke puncak lagi untuk kedua kalinya, sungguh mengharukan. Sampailah kami di puncak, aku ingin sekali memfotonya dengan papan yang ada disana, tapi dia menolak dengan spontan. Kira-kira tulisan di papan seperti ini...
Setelah dirasa cukup kami turun dengan menanggap 'semua akan berlalu' dan kembali ke Pos 4 mengemasi barang bawaan dan lanjut turun langsung ke Pos 1, aku bertanya lagi mengenai rencananya lantas dia menjawab menundanya dulu karena tidak mau terlalu beresiko lebih toh juga siapa orang dimaksud, setauku sih ngak ada. Dia sangat mengayomi punggawanya karena sudah nampak letih dengan membawakan tas berat berisi beban moral sampai kebawah, makan gorengan, lanjut menuju kontrakan. Kemerdekaan harus terus digelorakan mengingat perasaan terjajah bisa datang dari aspek mana saja, menyerang apa saja dan kapan saja, karena itu adalah bagian dari utuhnya mentalitas dan pemikiran. Setelah makan di warung "Mak Preh" dia mulai meringis untuk mengakhiri kisah ini, untuk kembali ke peradaban semula. Ini mungkin bisa menjadi hadiah ulang tahun dariku ya Bang, sehat selalu. Terimakasih... Salam.
NB : Jika ada saran boleh diutarakan, melalui komentar ataupun email tertera di profil





Dimana mahesa suro?
BalasHapusDia sedang bersenang-senang
BalasHapus