Lorong Ingatan Silam

   Singgah kali ini sangat tidak direncana, berhubung lewat gerbang taman mendadak jadi teringat masa kecil pernah kesini ke sebuah Ecopark Kyai Langgeng yang terletak di daerah dengan koordinat 7.4844S 110.2106E dengan akurasi kurang lebih 6.00M yang diresmikan pada tahun 1987. ceritanya taman ini sebelumnya merupakan lahan kritis berupa pekuburan, persawahan dan perkebunan yang kurang produktif, lalu pada 1981 diubah menjadi taman bunga dengan luas mencapai 27,5 hektar. Nama Kyai Langgeng diambil dari nama seorang ulama sekaligus pejuang dibawah pimpinan pahlawan nasional Pangeran Diponegoro, dan tepat disinilah beliau dipusarakan.

   Mari berkelana kembali ke masa kecilku, aku juga tidak berniat lama disini hanya ingin mengenang ke tempat yang masih teringat. Hari ini lumayan ramai pengunjung meskipun bukan akhir pekan, didominasi anak-anak sekolah yang sedang study tour. Harga tiketnya juga standart lah untuk umum, sekian lama akhirnya aku kesini lagi setelah 20 tahun lamanya... hahaha.

   Pertama setelah dapat tiket masuk patung burung iconik yang sangat teringat jelas, patung besar sepasang burung yang bertengger dipohon tumbang merupakan spot foto yang wajib jika berkunjung kesini, aku juga duduk sebentar sembari melihat orang berfoto. Ternyata jika diingat aku dari kecil memang perlu dipaksa untuk sekedar berfoto.
   Selepas itu aku berkeliling lagi dengan mengabaikan hal-hal yang tidak terlintas di ingatanku berjalan melewati koridor diatas taman, satu per satu memori masa kecil hadir saat melewati spot tertentu dan dialog-dialog kecil dengan Bapak Ibu. "kok buanyak dinosaurus, gigit iku Buk?" tanyaku polos, karena aku kecil menganggap dinosaurus adalah hewan yang buas tapi keren karena melihat dari buku-buku fiksi. "yo ngak to, wong cuma patung" jawab ibuk dengan tertawa dan mengajakku berfoto di patung yang dari bentuknya seperti Tyrannosaurus-rex.
  Lanjut melewati berbagai objek baru yang dulu belum ada seperti pesawat terbang, bianglala, Flying fox, Botani garden dan wahana edukasi lainnya. Komedi putar menarik perhatianku karena dulu aku pernah disitu naik singa ditemani ibuk yang menunggu disamping wahana, sekarang mau coba lagi sepertinya sudah bukan Hak ku lagi. Disitu aku berkenalan dengan Andre yang naik kuda sama bundanya, sekalian aku fotoin kan.
   Terus jalan lagi aku terhenti pada patung dinosaurus yang berada di pinggiran kolam ikan yang luas banget ada gazebo pula ditengahnya, aku pernah disuruh naik diatas patung untuk difoto, kebetulan ada anak kecil yang sedang duduk disana namanya Zhifa kelas 1 SD jadi sekalian aku fotoin juga sambil ngasih coklat yang aku bawa. Setelah aku membaca ensiklopedi Dinosaurus aku bingung ini jenis apa, dari bentuk badan harusnya plesiosaurus tapi bukan kaki bercakar karena habitatnya di air.
    Masuk lebih dalam lagi banyak pohon tinggi sepanjang jalan, mengarah ke kali bening yang banyak batuannya disitu dulu aku juga pernah main air sampai basah kuyup dan dimarahin sama Bapakku tapi mau gimana lagi sudah terlanjur enak. Banyak bertemu tanaman-tanaman langka, hewan-hewan yang harus dikandang dan adik-adik kecil lagi mbecak yang lucu, ketemu juga sama mbak Indri namanya yang kakinya lecet karena sepatu kekecilan jadi berhubung aku bawa sandal di tas langsung menawarkan untuk memakainya.
  Ada satu lagi tempat yang aku ngak pernah lupa yaitu "Desa Buku" meskipun sekarang sudah tidak ada lagi. Bapak mengajakku kesana dan aku sangat senang karena waktu itu aku berpikir pasti banyak buku dongeng disana. Itu merupakan tempat sejenis perpustakaan umum didalam Taman Kyai Langgeng, tujuannya untuk membangkitkan minat baca yang masih rendah dimasyarakat yang didirikan tahun 2003, juga merupakan program pemerintah setempat. Namun karena mungkin ada berbagai faktor Program Desa Buku dipertanyakan kemajuannya karena notabene budaya bertutur yang masih melekat di masyarakat tanpa mau mencari tau dasar informasi terkait. Sedikit miris tapi seperti itulah seleksi alam bekerja, kemauan untuk membaca mencari tau informasi sebenarnya perlu di budayakan atau bertahan meneruskan estafet informasi yang menyesatkan.
   Lepas 3 Jam didalam aku keluar dari taman selain perasaa  menenangkan aku merasa dihadapkan lagi dengan fakta rendahnya minat baca untuk saat ini, aku rasa Program dari pemerintah tersebut sudah bagus dan perlu di sebar luaskan, tinggal memikirkan bagaimana mengedukasi masyarakat untuk berbudaya membaca. Tapi masih sangat disarankan berkunjung ke sini bermain sambil belajar, Itulah kenangan masa kecilku, terimakasih sudah membacanya, salam...
Gunung Sumbing
Kali Bening




NB : Jika ada saran boleh diutarakan, melalui komentar atau email tertera di profil

Komentar