Berkelakar dengan fetakompli

Revolusi Mental

  Ini bermula ketika ingin sedikit menjejal perubahan dan evaluasi mandiri, dengan melangkah sedikit lebih jauh pun mungkin dapat lebih berguna bagi sesama, Fait accompli dans la vie.

   Dimulainya sebuah perjalanan adalah muara dari hasil pengabdian di Bondowoyo selama ramadhan dan keputusan mengakhiri studi di Heroes city yang dibersamai sebuah kegagalan dalam sebuah hal lain semacam kehilangan sebagian diri sendiri. Selama disana lebih banyak merenung, berkawan dengan sampah, berkelakar dengan Habaib, serta mencoba lebih berguna bagi sesama dan itu sangat menyenangkan bagi jiwa yang jenggah maupun kusut. Merencanakan sebuah perjalanan sebagai media untuk lebih mengevaluasi diri sendiri yang rencananya selepas lebaran, karena itu tak dapat diabaikan mengingat momen setahun sekali untuk lebih leluasa berbincang dengan rumah sekaligus untuk pamit pergi dalam kurun waktu yang tak menentu.

   Pulau emas... itu tempat yang terlintas dipikiran sesaat, tapi tidak akan seru sepertinya jika langsung menetapkan tujuan, lantas aku memutuskan berjalan tak kenal arah. Berangkatlah dari rumah menuju Surabaya dengan niatan bersilaturasa dengan para senior terlebih dahulu dan bercerita tentang pengalaman, barangkali bisa menjadi bekal dijalan.

"Bang gimana ya kalo aku ikut bantu ke Bawean?" tanyaku karena belum lama ini terjadi gempa disana.
"Sudah banyak relawan yang berangkat kesana Boy, mending gerak disektor lain aja toh tujuannya sama... memberi manfaat" terang salah satu senior yang akrab dipanggil Bang Lala.
"Oke juga sih, tapi kira-kira ngapain ya.." aku bingung.
"Ayo ikut gerak di Blitar Boy, ngelanjutin yang kemarin" kata Bang Lala.

"Ayo aja sih Bang, sekalian nanti ke Tulungagung Wali Kukun" kataku menyetujuinya.

   Langsung berangkat esok harinya menuju Blitar langsung ke lereng Gunung Kelud karena kita masih ada tempat disana sisa penanaman yang lalu yang awalnya dijebak untuk itu, keseharian naik turun dengan membawa bibit tanaman yang ditanam daerah kritis sekitar lereng selama sekitar satu bulan. Meskipun tak setiap hari karena kita sempat ke Tulungagung juga melihat kondisi tanaman yang lalu di Wali Kukun dan kebetulan waktu itu bersamaan dengan Bung Rocky Gerung (Presiden Akal Sehat) yang ingin berkunjung ke Candi Dadi. Sempat ngobrolin tentang lingkungan, sungai, hutan dan segala macam aturan yang belaku.


"Cukup ya Boy, aku balik ke surabaya dulu ya... kamu lanjut kemana?" tanya Bang Lala, yang logatnya masih khas anak Jakarta meskipun sudah puluhan tahun disurabaya.

"Sudah Bang, mungkin aku mau jalan ke arah timur" jawabku memutuskan.
"Hati-hati dijalan, sehat selalu... jumpa lagi di surabaya" tukasnya singkat sambil senyum.
"Siap Bang, pun sebaliknya" lalu aku dan Bang Lala menuju bus masing-masing.

Mencoba Khas

Dalam keramaian manusia-manusia telah bermutasi sehingga dihampiri syndrome Likantropi ; saling memangsa sesamanya. Dan dalam keramaian banyak mayat-mayat yang hidup.

Nietzsche pun bernah berkata ; "Aku mencintai hutan, tidak enak bertinggal dikeramaian. Di sana terlalu banyak mereka yang bernafsu". Dan Bung Karno juga pernah berkata ; "Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata".

Itulah sebabnya saya lebih suka menyendiri di beranda rumah atau di hutan lalu mencoba hal yang tidak banyak orang lakukan. Cobalah membaca atau menulis semuanya dan lakukan apa maumu lalu luaskan batasmu.

Belantara Pemikiran
____________


   Melanjutkan perjalanan ke arah timur dan pengen ke Dlundung lalu mampir ke kawan-kawan atau senior seperjuangan, ada Pak Yusri di Paris of east java, ada Imam Gipot di Bumi banger (perwakilan suku maya) yang hobi mancing diatas tongkang dan ada orbituary yang aku baru tau tentang mamak, ada Zainullah Purel di Kota megalitikum (perwakilan suku arya) salah satu homesick ranger 'kopi bengi' yang dua adik kecilnya fahmi dan liya memutuskan berumah tangga dibulan yang sama, aku masih sebagai (perwakilan suku eskimo) dan mereka semua menyenangkan, mengajakku ke tempat-tempat yang nyaman dan menenangkan secara emosional, kawah wurung, air terjun Tancak Kembar, Gunung Piramid dan sumber selatan misalnya, terimakasih kalian. Menuju lebih timur lagi sampailah di depan Pelabuhan Penyebrangan Ketapang, tapi ada kabar dari Surabaya yang aku berkewajiban untuk menghadirinya. Mau tak mau aku putar balik untuk kembali dan mungkin bisa melanjutkannya selepas urusan selesai, namun apa yang aku temukan setelah kembali... harap-harap cemas, terlalu percaya diri, hahaha ternyata makin banyak kesalahan sehingga membuat pikiranku makin berantakan, dan benar perjalananku memang harus dilanjutkan setelah sekian saat tertunda.

   Langsung menuju Pulau Dewata untuk pembukaan dengan estafet, disana sudah disambut Dayat Darkek seorang dengan jargon Agen Dosa, aku mau mengurus surat keterangan tidak mampu berdosa, barangkali dapat keringanan. Ditemani dia berkeliling ke sudut desa-desa adat, hutan di sekitaran Karangasem, dan pulau-pulau kecil di sekitaran sana. Berbagai macam orang aku temui dan bercerita tanpa bosan. Setelah beberapa hari ditampung, aku berencana geser lagi.

"Jadi nyebrang suu besok?" tanya Dayat Darkek yang berencana mau nganterin ke penyebrangan.
"Yo jadi lah suu, mau nyamperin Bang Afunk aku" jawabku dengan sedikit tertawa.
Esok harinya aku berangkat diantar Doi ke penyebrangan untuk berlayar ke Tempat selanjutnya.
"Salam buat Bang Afunk suu, hati-hati" kata Dayat Darkek.
"Oke baik suu, sehat selalu" tungkasku sebelum berpisah.

Seklebat Nasehat

Banyak sekali yang terlewatkan karena terburu-buru,
Sebab banyak mereka yang berjalan tapi tidak kemana-mana,
Menepilah, dengarkan apa yang disekitar.

Di usia yang sedang beranjak ini ada pengalaman menarik,
yaitu saat aku duduk dengan orang yang lebih tua dari ku,
Mereka bercerita betapa besarnya tanggung jawab ketika memutuskan untuk berkeluarga dan segala resah dalam hidup,
di akhir cerita mereka bilang ; "Tenanglah selagi kamu punya niat baik, maka jalanmu akan dipermudah".

Sedikit ataupun banyak nasehat tetap nasehat, closing statement diutarakan bahwa ; "Orang-orang seperti kita ini tidak pantas untuk berteduh, mari hadapi semuanya sampai reda". semua sepakat lalu tertawa.

Wande Kebon Eco
_____________

   Kapal melesat menuju tempat tujuan selama kurang lebih 23 jam, dan sampailah ke kotanya Bang Afunk kota dengan motto "Maja Labo Dahu", Dan Bang Afunk sudah stay didermaga untuk mengajak bergeser ke tempatnya sebelum para preman minta permen. Jadi ingat tragedi bus probolinggo saat melihat bekas luka ditangan.

"Apa Kabar suu?" tanya Bang Afunk.
"Konsisten positif bang, gimana sebaliknya?" tanyaku balik.
"Sama lah, cuma sedikit meradang... ekonominya hahahah" lalu kita tertawa.
"Kawan-kawan bagaimana?" lanjutnya...
"Masih normal sih, sama kaya dulu bang" jawabku lagi setelah habis minum.

    Hari-hari disana aku diajaknya berkesibukan yang menghasilkan, yang penting positif sebelum akhir pekan berencana mau jalan-jalan ke gunung hutan sekitar. Nyaman juga disana, sungainya bikin rindu, bukitnya bikin candu, gunungnya apalagi beuhhh... serasa mau bertinggal saja sampai tua, tapi sepertinya tak boleh melebihi dari yang aku bilang, dan benar ada kabar bahwa temanku yang sudah aku anggap saudara ada yang masuk Rumah Sakit mendadak, lantas aku harus buru-buru kesana meskipun agak jauh sebelum operasi dilakukan. Padahal aku masih ingin berkunjung ke Bitombang dan Morotai setelah ini, tapi mungkin ada perasaan yang lebih berat jika melakukannya, semampunya saja.

Sesama

Kilas balik perjalanan, semua berbuah peng-alam-an,
keberadaan ini sebagai manusia yang belum baik,
namun selalu mencoba untuk berguna.

Yang dilakukan bukan sekedar untuk pengakuan,
merupakan fitrah bagi sesamanya untuk saling menguatkan,
barangkali itu menjadi sumber kebahagiaan yang kontan.

Lakukan saja semaunya dan semampunya,
selama tak ada niat menciderai sesama,
mempergunakan cinta kasih dengan wujud sebenarnya.

Sesekali merasakan apa yang dirasakan sekitar,
dengan begitu ada ketulusan disetiap tindakan,
semua sama... tak ada yang bisa hidup sendiri.

Di ujung kabut musim kemarau.
________________

    Pemahaman yang dapat aku utarakan untuk perjalanan ini, Semua yang terjadi adalah bagian dari keseimbangan, tak terlepas dari yang dianggap baik maupun tak baik. Setiap kejadian memiliki ruang hikmah masing-masing didalamnya, tinggal seakurat apa dalam mengaksesnya. Tetaplah mencoba menjadi berguna meskipun belum baik, kita mungkin dipertemukan lalu melekat bukan karena sesama baiknya dan bukan karena kebetulan, ada wujud-wujud lain yang mana kita harus saling menerima sebagai manusia. "Kita tidak menanamkan apa-apa, Kita tidak kehilangan apa-apa" kata Soe Hok Gie dalam puisi terakhirnya, jadi hiduplah dengan apa yang dipunyai saat ini dan boleh bersyukur untuk itu. Sebagai manusia pun aku terkadang sama, sering melupakan hal-hal baik dari seseorang karena sibuk mengingat kesalahannya yang tak seberapa, sering berasumsi tanpa mengenal kondisi, terlalu banyak bicara yang tak perlu, jika boleh itulah penyesalanku selama ini. Ternyata dalam lain hal aku belum berubah, aku masih orang yang suka bergaul dengan semua jenis orang, lalu lari dari semua orang dan mencari jati diri sendiri. 

"Kita semua punya bekas luka. Jika kita merangkul mereka dan memilih untuk belajar dari mereka, mereka akan membuat hidup kita lebih menarik, dan mereka akan memberi kita persepsi yang lebih dalam."
-Diamante Lavendar


    Sampai sekarang pun setelah aku membuat ini Dia belum tersadarkan pasca operasi, entah sudah berapa hari aku disini, akrab dengan rintihan, bau obat dan doa-doa tulus sepanjang koridor, membuat isi kepalaku sedikit tenang tak berisik seperti biasanya karena rasa syukur yang muncul tiba-tiba... support perjalanan kali ini adalah dp tanah yang batal, freelance, dan lain sebagainya. Terimakasih untuk kawan-kawan, para supir yang memberi tumpangan, pedagang yang memberikan nasehat, semoga yang terbaik terkabul untuk kalian semuanya, Salam...



NB : Jika ada saran boleh diutarakan, melalui komentar ataupun email tertera di profil

Komentar